Palembang, 1 September 2025 — Suara perlawanan terhadap korupsi dan ketidakadilan kembali menggema di Kota Palembang. Sejak pukul 13.00 hingga 17.00 WIB, ratusan mahasiswa termasuk di dalamnya ada Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Wilayah Sumatera Selatan turun ke jalan, menyuarakan tiga tuntutan besar yang mereka tujukan kepada pemerintah, DPR, dan aparat kepolisian.

Ketua Umum KAMMI Sumsel, Rangga Geni, tampil lantang menyampaikan sikap organisasi. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa rakyat sudah terlalu lama muak dengan praktik korupsi yang tak kunjung usai. Karena itu, KAMMI mendorong percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset sebagai langkah konkret untuk mengembalikan hak rakyat.
“Tidak ada alasan bagi DPR dan pemerintah untuk menunda-nunda. RUU ini harus menjadi senjata untuk mengembalikan hak rakyat dari tangan koruptor yang rakus,” tegas Rangga.

Tak hanya soal korupsi, aksi tersebut juga menyoroti krisis kepercayaan publik terhadap Polri. Menurut Rangga, citra kepolisian kian terpuruk karena banyak kasus menunjukkan aparat lebih sering menjadi alat kekuasaan daripada pelindung rakyat. Ia menekankan perlunya evaluasi mendalam agar Polri kembali ke khitahnya: mengabdi untuk rakyat.
“Hari ini Polri kian kehilangan kepercayaan publik. Kami menuntut agar dilakukan evaluasi serius terhadap tubuh Polri, agar kembali pada khitahnya: mengabdi untuk rakyat, bukan menindas rakyat,” ujarnya di hadapan massa aksi.
Tuntutan ketiga yang digaungkan KAMMI Sumsel adalah keadilan bagi Affan, korban yang meninggal dunia akibat tertabrak mobil Baracuda dalam aksi sebelumnya. Tragedi ini, menurut Rangga, tidak boleh dianggap sepele atau sekadar catatan insiden.
“Mobil Baracuda yang seharusnya menjaga keamanan justru merenggut nyawa anak bangsa. DPRD Sumsel, Kapolda Sumsel, dan seluruh institusi terkait harus membuka kasus ini secara transparan, menyeret pelaku ke pengadilan, dan memberikan keadilan bagi keluarga korban,” tegasnya.
Aksi yang berlangsung damai ini menyedot perhatian masyarakat Palembang. Di tengah panasnya isu korupsi dan kepercayaan publik yang merosot terhadap institusi hukum, suara mahasiswa hadir sebagai pengingat: bahwa rakyat berhak atas keadilan, keamanan, dan pemerintahan yang bersih dari korupsi.


