Jakarta, Mei 2025 — Di tengah perayaan ulang tahun ke-58 Perum BULOG, kabar menggembirakan datang dari sektor pangan nasional. Seorang pakar pangan dari Universitas Andalas (Unand), Dr. Muhammad Makky, menilai bahwa capaian luar biasa BULOG dalam menyerap gabah dan beras tahun ini bukan sekadar statistik atau laporan kerja tahunan biasa. Bagi Makky, ini adalah “kado istimewa” untuk bangsa Indonesia, yang selama ini bercita-cita menjadi bangsa yang mandiri secara pangan.
Makky menyampaikan pandangannya berdasarkan data bahwa cadangan beras pemerintah (CBP) saat ini telah menembus angka 3,5 juta ton, menjadikannya yang tertinggi dalam sejarah Indonesia modern. Capaian ini bukanlah hal yang mudah, apalagi mengingat tantangan global yang mempengaruhi sektor pangan seperti perubahan iklim, krisis geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi internasional. Namun, di tengah semua tantangan itu, BULOG justru tampil sebagai tulang punggung kestabilan pangan nasional.
Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan
Makky secara khusus menyoroti peran sentral dari kepemimpinan Letjen TNI Novi Helmi Prasetya selaku Direktur Utama Perum BULOG. Di bawah komandonya, BULOG disebut mampu merangkul berbagai pihak: kementerian/lembaga pemerintah, mitra penggilingan padi, koperasi, hingga para petani di desa-desa pelosok. Menurutnya, kolaborasi yang inklusif ini menjadi salah satu faktor kunci tercapainya serapan gabah dan beras dalam skala besar.
“Saya melihat capaian CBP 3,5 juta ton hari ini adalah kado spesial dari kerja keras jajaran BULOG yang memperkuat kolaborasi dengan kementerian/lembaga serta para petani di seluruh Indonesia,” ujar Makky, Sabtu (10/05/2025).
Kolaborasi ini tidak hanya membuat BULOG lebih tangguh dalam logistik pangan, tetapi juga membentuk jaringan distribusi yang lebih adil dan efisien, di mana petani tidak lagi menjadi pihak yang paling dirugikan dalam sistem agribisnis nasional. Dalam pandangan Makky, inilah bentuk nyata kehadiran negara melalui BULOG.
Harga Pokok Penjualan: Solusi untuk Kesejahteraan Petani
Salah satu keberhasilan BULOG yang juga diapresiasi oleh Makky adalah kebijakan pembelian gabah sesuai Harga Pokok Penjualan (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Menurutnya, langkah ini memberi dampak ganda: pertama, petani bisa menjual hasil panennya dengan harga yang layak; kedua, negara memiliki cadangan pangan yang kuat untuk menjaga stabilitas harga di pasar.
“Nilai Tukar Petani (NTP) tahun ini berada pada angka 100, yang artinya kesejahteraan petani kita mulai membaik. Ini jelas tidak terlepas dari kebijakan BULOG dalam menyerap gabah dengan harga yang adil sesuai HPP,” jelas Makky.
Capaian ini seolah menegaskan bahwa BULOG bukan hanya institusi logistik pangan, melainkan juga agen perubahan sosial yang memperjuangkan keadilan ekonomi bagi petani. Dalam jangka panjang, ini akan berdampak besar terhadap semangat dan produktivitas petani nasional.
Swasembada Pangan Semakin Nyata
Capaian BULOG ini menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan ambisi besar pemerintah menuju swasembada pangan, yang dalam waktu dekat akan benar-benar terealisasi. Dengan stok CBP yang kuat, pemerintah bahkan telah menyatakan bahwa Indonesia tidak perlu melakukan impor beras hingga 2026, sebuah prestasi besar di tengah ketergantungan yang selama ini kerap terjadi.
Makky menilai bahwa keberhasilan BULOG dalam menyerap gabah dan membangun stok nasional ini adalah fondasi penting bagi swasembada pangan Indonesia. “Jika pola seperti ini dilanjutkan dan diperluas, saya yakin kita tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga akan menjadi negara eksportir pangan yang disegani,” ujarnya penuh optimisme.
Arah ke Depan: Perluas Jangkauan, Perkuat Kemitraan
Namun, Makky juga memberi catatan penting ke depan. Ia berharap BULOG tidak berhenti di pencapaian saat ini, melainkan terus melakukan ekspansi kemitraan, khususnya dengan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), Kelompok Tani (Keltan), Koperasi Desa, hingga BUMD Daerah. Dengan semakin luasnya jaringan kerja sama, rantai pasok pangan akan menjadi lebih efisien, lebih terjangkau, dan semakin memberdayakan masyarakat desa sebagai produsen utama pangan nasional.
“Sekali lagi, selamat atas kesuksesan BULOG yang terus menjaga stabilitas dan kesejahteraan petani. Saya menyampaikan selamat ulang tahun bagi BULOG. Semoga ke depan BULOG menjadi garda terdepan bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya melalui bidang pangan,” pungkasnya.
Penutup: BULOG sebagai Pilar Masa Depan Indonesia
Dalam usia ke-58 tahun ini, BULOG telah menunjukkan bahwa institusi negara bisa hadir dengan cara yang efektif, humanis, dan berdampak langsung pada masyarakat. BULOG bukan sekadar menyimpan beras di gudang, tetapi mewakili semangat kedaulatan pangan, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada petani.
Kado istimewa yang disebut oleh Pakar Unand ini sesungguhnya adalah simbol dari harapan yang sedang tumbuh—bahwa bangsa ini bisa berdiri di atas kaki sendiri, mengelola pangannya sendiri, dan menyejahterakan rakyatnya sendiri. Dengan komitmen dan keberpihakan seperti ini, Indonesia memang layak optimis menyongsong masa depan pangan yang cerah.




